Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah waktu setelah adzan.
Apalagi kalau berdoanya di Alharamain, di mana segala keutamaan terletak di sana.
Cukup panjang menunggu waktu iqomah sebelum datangnya waktu sholat untuk berjama’ah di dua masjid mulia, Nabawi dan Masjidil Haram.
Kalimat demi kalimat doa sambung-menyambung mengisi jeda waktu antara adzan dan iqomah.
Selesai satu doa, bersambung ke doa yang lain, selesai memanjatkan doa pribadi, berlanjut ke barisan titipan doa dari teman dan sanak kerabat.
Saya kira doa yang saya panjatkan sudah cukup banyak, panjang, dan lama. Tapi ternyata Iqomah belum juga dilantunkan. (Ah, bisa jadi mungkin faktor saya yang terlalu sombong, tidak cukup bersimpuh dan meminta kepada-Nya).
Sambil meminta kepada-Nya untuk bisa diberikan ide-ide doa yang terbaik, pelan-pelan muncul permintaan dan pengharapan dari hati dan kepala, semoga Allah berkenan mendengar dan menerimanya. Perkara perwujudannya, Allah yang lebih berhak.
Sampai habis ide mau doa apa lagi, saat itulah lantunan iqomat dikumandangkan.
_ _ _ _ _
Ada satu nasihat yang pernah disampaikan Pak Ustadz, “Sesungguhnya hidup kita hanyalah sebatas Adzan dan Iqomah. Ditandai dengan adzan yang dikumandangkan setelah kita dilahirkan dan iqomah yang dikumandangkan ketika jenazah kita akan disholatkan. Dan bagaimana cara kita mengisi sepanjang waktu antara adzan dan iqomah itulah yang menentukan akhir perjalanan kita nanti. Siapa yang bisa mengisi dengan seproduktif mungkin, dialah yang akan mendapatkan kemenangan di akhirat nanti, begitu pun sebaliknya.”
MasyaAllah, tabarokallah.
Wallahu a’lam bisshowab.