Always start with Basmallah

7 Alasan Kenapa Sebaiknya Anda Tidak Lagi Typo!

Bismillah…

Saya akan meemulai tulisan ini dengan ilustrasi berikut:

_____

Janet: “Gue tuh pusing deh sama Bu Juni, manager kok gitu amat. Setiap proposal yang gue ajuin pasti ada aja salahnya, ada aja yang dikoreksi. Sampe segala titik komalah dia koreksi juga. Ketinggalan 1 huruf aja komplen, mesti gue benerin lagi. Sok perfeksionis amat sih tuh orang.”

Jani: “Ya gimana lagi, emang begitu. Btw, emang sebelum elu kasih segala proposal & report itu udah sempet elu koreksi sendiri belum? Baca ulang trus lu edit?”

Janet: “Ya enggaklah, ngapain mesti gue baca ulang? Itu kan kerjaan dia sebagai supervisor gue, ya nggak?”

Jani: “Berarti ada salah lu juga di situ. Kan elu mesti pertanggungjawabkan juga setiap kerjaan yang elu buat. Klo ada yang perlu direvisi ya baiknya diedit dulu sama elu, udah clear baru setor ke Bu Manajer, dianya juga ga kepusingan kali, masih mikirin ngedit seluruh typo-an elu yang receh. Yang substansial baru dia yang ngoreksi.”

_____

Banyak dari kita yang tidak menyadari seberapa pentingnya menyajikan tulisan dengan rangkaian kata yang sempurna tanpa typo. Membiasakan membaca ulang dan mengedit terlebih dahulu apa yang kita kerjakan. Hasil sempurna jelas tidak mungkin ada, setidaknya itu sudah bagian dari upaya maksimal yang dihasilkan dari tanggung jawab yang sempurna.

_____

Bayangkan bila seperti ini halnya:

1. Dalam suatu waktu, Oom Jono mendapati tagihan di kartu kreditnya selisih 900ribu dengan tumpukan struk yang disimpannya. Walhasil, setelah dicek kembali ada perbedaan pada salah 1 merchant tempatnya berbelanja. Barang yang seharusnya ditagihkan Rp. 5.000.000,- malah dihitung Rp. 5.900.000,-. Lumayan bikin geleng-geleng kepala juga saat kangtong cekak. Kesalahan demikian lazim terjadi, dan kesalahan bukan hanya ada pada pihak merchant, tetapi juga pelanggan yang alpha dan malas memeriksa ulang struk pada saat transaksi. Itu baru salah angka, bakal lebih kacau lagi bila ada kesalahan pada digit nol yang diinput.

2. Kasus Jani dan Janet pada ilustrasi sebelumnya hanyalah sebuah gambaran ringan yang acapkali kita abaikan. Punya bawahan seperti Janet tentu saja lama-lama bikin kepala Bu Juni pusing 7 keliling dengan recehan typo yang tak kunjung ada perbaikan.

3. Lain lagi dengan cerita Jani dan Juna berikut:

Juna:
(maksud hati ingin menulis seperti ini) “Emang kamu yang salah?” (intonasi dengan bertanya, mencoba peka terhadap situasi)
(namun apa daya malah salah ketik) “Emang kamu yang salah!” (intonasi dengan menyudutkan)

Jani:
“Iiih, kok kamu jadi nyalahin aku sih. Emang kamu tuh ya, laki-laki ga pernah peka. Dari dulu aja xxxxxxxxxxx …..”
(nah loh kan, jadi berantem gara-gara salah tanda baca).

4. Belum lagi untuk typo dalam penulisan bahasa asing, Inggris atau Arab misalnya. Salah penulisan 1 huruf saja bisa langsung merubah maknanya. Misalnya antara kata Home (Rumah) dengan Hope (Harapan), Bike (Sepeda) dengan Bake (membakar), Min (dari) dengan Man (Siapa), Kum (Kalian) dengan Hum (Mereka).

5. Bila Anda seorang pemilik perusahaan yang sedang berfokus pada penyebarluasan campaign ke pihak pelanggan, tentunya kesalahan-kesalahan typo semacam ini juga bisa merusak citra perusahaan yang sedang dibangun, berpotensi memunculkan missunderstanding antara kebijakan perusahaan dengan interpretasi costumer. Lebih jauhnya lagi, pengabaian untuk kesalahan-kesalahan yang fatal bisa berujung pada kerugian perusahaan.

6. Untuk beberapa pilihan profesi pekerjaan, kesalahan dalam penulisan bisa sangat tidak ditolerir terkait dengan kesempurnaan penyajian data yang diinginkan perusahaan.

7. Jika Anda terlampau sering typo, hati-hati! Jangan-Jangan memang ada masalah kesehatan pada pandangan mata Anda.

Dengan semua alasan tersebut, Masih yakin mau mengabaikan semua typo yang biasa Anda lakukan secara sadar ataupun tidak? Satu tips yang sangat efektif, biaakan selalu mengedit kembali apa saja yang ingin anda sampaikan. Bila sudah terbiasa, bahkan Anda pun akan mulai terbiasa mengedit isi percakapan pada setiap messenger Anda sebelum tombol kirim dipencet.

Wallahu a’lam bisshowab.

dewi

Setiap Wanita punya cerita. Setiap manusia bisa bercerita. Setiap post di blog ini adalah rangkaian cerita kehidupan Kita, ya Saya dan Anda. Karena setiap Kita, melangkah di antara cerita 1 menuju cerita lainnya. Saat ini mungkin cerita Saya, besok bisa saja menjadi cerita Anda. *Writing Enthusiast* Selain mengelola laman dewifitriani.com, Saya pun aktif di samaraquran.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *