Bismillah…
Nikmat bagi saya, ketika pagi-pagi bisa sarapan seporsi nasi uduk plus secangkir teh manis hangat. Saya curiga, jangan-jangan Allah memberi sepersekian persen kenikmatan Surga dalam secangkir teh manis hangat. Bagaimana tidak, bila dalam setiap seruputnya ada kehangatan tersendiri yang membawa kembali semangat, seolah menyeruak ke medan perang, siap berjibaku dengan hiruk-pikuk rutinitas harian. Bahkan, tanpa pasangan pun (tanpa penganan pendamping), cukup dengan menyeruputnya saja sudah terasa sarapan bagi saya, memberi energi positif di sepanjang pagi sampai sore hari, membuka stimulus ide dan gairah yang bertabur semangat.
Tapi agaknya rutinitas pagi dengan secangkir teh manis hangat sudah harus saya kurangi saat ini. Menjalani diet sehat dengan mengurangi konsumsi kafein dan gula, memaksa saya untuk membuang jauh-jauh kenikmatan dari seteguk teh manis hangat ngepul-ngepul (slurpp, rasa yang cuma kebayang di lidah).
Dengan ataupun tanpa teh manis, hidup masih akan terasa manis.
Nikmatnya secangkir teh manis hangat berganti menjadi nikmatnya pagi hari dengan tubuh dan pikiran yang semakin jernih dan sehat setiap harinya, senikmat menyambut Senin pagi dengan Alhamdulillah (butuh usaha extra keras untuk bersahabat dengan Senin pagi, menjadikannya senikmat penantian di Jum’at sore).
Ada masa ketika saya tidak memahami kenapa Allah mengulang-ulang kalimat (ayat) yang sama dalam satu surat, bahkan sampai 31 x pengulangan, seperti disebutkan dalam surat Ar-Rahman berikut:
Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban
(Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?)
Ketika saya tanyakan pada seorang teman, yang lebih memahami Islam, disampaikannya seperti ini:
“Kamu pernah dengar ga cerita, ada seorang cacat, yang tidak memiliki tangan dan kaki, tapi Allah kasih dia kesempatan hidup dengan keluasan rizki dan rahmat-Nya yang tidak terbatas, untuk menjadi jembatan hikmah bagi orang-orang yang berfikir. “
“Sementara kalau kita sudah diberikan fisik yang sempurna, bagian mana dalam hidup kita yang bikin kita merasa pantas untuk tidak mensyukuri nikmat-Nya? Oksigen aja gratis buat dihirup setiap hari. Coba kalau udah sakit dan sesak nafas, berapa harga oksigen yang harus kita bayar untuk setiap tabungnya? Belum lagi nikmat-nikmat lain yang ga akan pernah habis kita sebutkan walaupun hanya untuk kenikmatan 1 hari saja.”
Dan dalam setiap ayat setelahnya, Allah menunjukkan bukti-bukti kebesaran dan kemuliaannya, sebagai penguasa Timur dan Barat, Lautan dan Daratan, Bumi dan Langit dan apa-apa yang kita tidak memiliki pengetahuan atasnya.
Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Tidak ada Ilah (yang haq) melainkan hanya Dia, sebaik-baik tempat berlindung dan tempat kembali.
Wallahu a’lam bisshowab.
Sebuah renungan bersama Syamsa Hawa | Sekeping Hikmah dari An-Naba’